Monday, November 7, 2011

Indohouse Rancang Bangun

Indohouse hadir dengan inovasi baru dengan membuat Jasa Rancang Bangun Perencanaan arsitektur yang baik bukan hanya dilihat dari sisi bentuk, gaya, dan sisi artistik saja. Perlu dipertimbangkan juga bagaimana memaksimalkan fungsi ruang ruang yang terkait di dalamnya karena karya arsitektur selalu terkait antara bentuk, langgam, artistik, dengan fungsional ruang. Bentuk mengikuti fungsi, dan fungsi mengikuti ruang
Pelaksanaan pembangunan suatu karya arsitektur didasari dari suatu perencanaan yang baik, serta diimbangi dengan ilmu konstruksi dan pengalaman di lapangan. Kombinasi keduanya akan menghasilkan suatu karya arsitektuir yang maksimal, baik dari sisi fungsi, bentuk, dan nilai ekonominya.
solusi terdepan dalam arsitektur


hubungi kami :
Address : Jl. Cikuray No.23 Bogor

contact person : 0812.1015 3819 ( Hendra R)


email : indohouseindonesia@yahoo.com
boyke.hendra@gmail.com

Tuesday, February 5, 2008

Alat Musik Angklung (Tradisional Music)

Angklung
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka [[orang Kanekes|orang Baduy]]) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di ''buruan'' (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: ''Lutung Kasarung'', ''Yandu Bibi'', ''Yandu Sala'', ''Ceuk Arileu'', ''Oray-orayan'', ''Dengdang'', ''Yari Gandang'', ''Oyong-oyong Bangkong'', ''Badan Kula'', ''Kokoloyoran'', ''Ayun-ayunan'', ''Pileuleuyan'', ''Gandrung Manggu'', ''Rujak Gadung'', ''Mulung Muncang'', ''Giler'', ''Ngaranggeong'', ''Aceukna'', ''[[Marengo]]'', ''Salak Sadapur'', ''Rangda Ngendong'', ''Celementre'', ''Keupat Reundang'', ''Papacangan'', dan ''Culadi Dengdang''. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

The music industry i

==Business structure==
The music industry is made up of various elements, including:
* [[Musician]]s
* [[Musical ensemble]]s
* [[Musicians' Union]]s
* [[Composer]]s and [[songwriter]]s
* [[Music publisher (popular music)|Publisher]]s
* Writers' [[copyright collective]]s and [[performance rights organization]] like [[American Society of Composers, Authors, and Publishers|ASCAP]] and [[Broadcast Music Incorporated|BMI]] (or [[Mechanical-Copyright Protection Society|MCPS]] and [[Performing Right Society|PRS]] respectively for the UK)
* [[Record producer]]s
* [[Record label]]s
* [[Record distributor]]s
* [[A&R]]
* [[Royalties]]
* [[Business manager]]s
* [[Band manager]]s
* [[Tour promoter]]s
* [[Booker (music)|Booker]]s
* [[Road crew|Roadies]]

A [[record company]] is an entity that manages sound recording-related [[brand]]s and [[trademark]]s which consist of their owned labels; their owned and licensed master recordings; and various related ancillary businesses such as home video and DVDs.

Labels may comprise a ''record group'' which is, in turn, controlled by a music group. As such, a larger umbrella label may have a number of sub-labels releasing music.

Music publishers exist separately (even if sharing the same ultimate holding company or brand name), and they represent the rights in the compositions - i.e. the music as written rather than as recorded.

Record companies and record labels that are not under the control of the Big Four music groups and music publishers that are not one of the Big Four are generally considered to be ''independent'', even if they are part of large corporations with complex structures. Some prefer to use the term ''indie label'' to refer to only those independent labels that adhere to criteria of corporate structure and size, and some consider an indie label to be almost any label that releases non-mainstream music, regardless of its corporate structure.

Visit Indonesia 2008

Tourism in Indonesia is an important component of the Indonesian economy and an important source of foreign exchange revenues. With a vast archipelago of more than 17,000 islands,[1] the second longest shoreline in the world,[2] 300 different ethnic groups and 250 distinct languages,[3] and tropical climate throughout the year, nature and culture are two major components of Indonesian tourism.

Tourism in Indonesia is currently overseen by the Ministry of Culture and Tourism. International tourist campaigns have been focusing largely on tropical destination with white sand beaches and blue sky imageries. Beach resorts and hotels were developed in some Indonesia islands, with Bali island as the primary destination. Cultural tourism is also an important part of Indonesia tourism industry. Toraja, Prambanan and Borobudur temples, Yogyakarta and Minangkabau are popular destinations for cultural tourism, apart from many Hindu festivities in Bali. About 5 million foreign tourists have visited Indonesia annually since 2000.[4]

However, tourism development had sometimes clashed with local people, that has created criticism over Indonesia's tourism industry. Most of the disputes were related over land possession, local traditions (adat) and the impact of tourism development to the local people. In another area, tourism industry in Indonesia faces major threats. Since 2002, several warnings have been issued by some countries over terrorist threats and ethnic/religious conflicts in some areas, which significantly reduces the number of foreign visitors.